Penyakit meningokokus adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis. Bakteri tersebut menginfeksi selaput otak dan sumsum tulang belakang dengan manifestasi demam dan kaku kuduk. Hingga saat ini terdapat 6 dari 13 serogroup yang paling sering menyebabkan wabah yakni A, B, C, W, X, dan Y.
Meningitis dapat diartikan sebagai peradangan membran meninges (selaput otak) dan disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme seperti virus, bakteri, dan jamur. Sedangkan penyakit meningokokus merupakan salah satu meningitis bakterial (disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis).
Penyakit Meningokokus telah tersebar di seluruh dunia dengan kejadian tertinggi ditemukan di sub-Sahara Afrika atau wilayah yang disebut “The Meningitis Belt atau sabuk meningitis” mulai dari Senegal di sebelah barat sampai ke Ethiopia di sebelah timur yang meliputi 26 negara.
Pada tahun 2025-2026, penyakit meningokokus telah dilaporkan di 32 negara pada 6 wilayah WHO, yakni 10 negara di wilayah WHO Afrika (Niger, Afrika Selatan, Chad, Burkina Faso, Mali, Rep. Afrika Tengah, Guinea, Kamerun, Ghana, dan Pantai Gading), 10 negara di wilayah WHO Pasifik Barat (Cina, Australia, Vietnam, Jepang, Selandia Baru, Mongolia, Taiwan, Korea Selatan, Singapura, dan Indonesia), 6 negara di wilayah WHO Eropa (Spanyol, Inggris, Yunani, Moldova, Perancis, dan Rep. Ceko), 3 negara di wilayah WHO Amerika (Amerika Serikat, Brasil, dan Uruguay), 2 negara di wilayah WHO Asia Tenggara (Thailand dan India), dan 1 negara di wilayah WHO Mediterania Timur (Arab Saudi).
Beberapa studi/laporan telah mendapatkan temuan kasus penyakit meningokokus (konfirmasi dan karier) di beberapa wilayah Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian Pusponegoro et al (1998) didapatkan 1 kasus konfirmasi. Pada tahun 2000, dilaporkan 14 konfirmasi dengan 6 kematian (WHO, 2000). Selain itu, terdapat beberapa studi terkait temuan kasus karier. Studi terbaru yang dilakukan oleh Tampubolon et al (2024) didapatkan 201 kasus karier dari 900 orang jamaah umrah yang diperiksa (22,3%).
Selain itu berdasarkan temuan surveilans, pada tahun 2026 dilaporkan 1 kasus konfirmasi penyakit meningokokus pada anak. Hal ini menunjukan adanya potensi besar untuk meningkatnya kasus penyakit meningokokus di Indonesia.
Gambaran klinis penyakit meningokokus sangat bervariasi. Gejala awal dapat berupa demam mendadak, sakit kepala, mual, muntah, myalgia parah, ruam tidak spesifik, sakit tenggorokan, dan gejala saluran pernapasan bagian atas lainnya. Pada tahap lanjut, penyakit meningokokus dapat menimbulkan gejala kaku kuduk, fotofobia, petekie atau ruam hemoragik, perubahan status mental, syok, warna kulit tidak normal, purpura fulminan, hingga komplikasi berat. Dalam mengenali tanda dan gejala penyakit meningokokus, perlu diperhatikan trias klasik berupa demam, perubahan status mental (penurunan kesadaran), dan kaku kuduk.
Terdapat dua bentuk klinis penyakit meningokokus, yaitu meningitis meningokokus dan septikemia meningokokus (meningokoksemia):
1. Meningitis meningokokus memiliki gejala khas berupa demam, penurunan kesadaran, kaku kuduk. Kasus lebih sering ditemukan terutama selama wabah.
2. Meningokoksemia memiliki gejala khas berupa demam, mual, muntah, ruam purpura, nyeri tungkai, dan tanda syok/multiorgan. Kasus disertai gejala meningitis akut atau tanpa gejala meningitis akut. Pada kasus tersebut bakteri dapat ditemukan dalam aliran darah. Kasus ini jarang terjadi, namun memiliki fatalitas yang tinggi
Seseorang dapat mengalami gejala setelah terpapar bakteri Neisseria meningitidis rata-rata 1-10 hari, namun umumnya sudah mengalami gejala pada hari ke-3 hingga hari ke-4. Mulai dari sakit kepala hebat, demam, mual, muntah, fotofobia, kaku kuduk, hingga timbul tanda gangguan neurologis (letargi, delirium, koma, dan kejang).
Bakteri Neisseria meningitidis hanya dapat menginfeksi manusia melalui kontak droplet pernapasan atau sekresi tenggorokkan (saliva) yang berkepanjangan (intens) dari orang yang terinfeksi misalnya saat bersin, batuk, berciuman, tinggal bersama, berbagi alat makan, sikat gigi, atau yang lainnya. Namun, penularan bakteri tersebut tidak semudah bakteri penyebab flu biasa (common cold).
Bakteri ini dapat menular dari manusia ke manusia baik melalui individu yang sedang terinfeksi maupun orang tanpa gejala (karier). Sebagian besar kasus meningokokus justru ditularkan oleh karier dibandingkan kasus yang menunjukkan gejala.
Setiap orang dari segala usia, ras, kelompok etnis, dan jenis kelamin berpotensi terpapar bakteri Neisseria meningitidis ketika memiliki potensi kontak dengan pasien terinfeksi (kontak erat). Namun terdapat beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan penularan, yaitu:
1. Pelaku perjalanan dari/ke wilayah terjangkit
2. Situasi mass gathering (pertemuan dalam jumlah besar), seperti ibadah haji/umrah, jambore, festival, konser
3. Pemukiman padat seperti tempat pengungsian, tempat yang tertutup (misalnya penjara, barak militer)
4. Daerah dengan migrasi tinggi (misalnya pasar dengan lalu lintas tinggi dan daerah perbatasan)
5. Faktor individu (seperti usia, paparan asap rokok (aktif dan pasif), kondisi imunitas dan infeksi saluran pernapasan akut, serta kondisi penyerta (komorbid))
Orang yang memiliki riwayat kontak fisik erat (berinteraksi erat, merawat, atau bercakap-cakap dengan radius 1 meter) dengan kasus konfirmasi, probable meningitis meningokokus atau probable meningokoksemia sejak 7 hari sebelum onset gejala kasus sampai 24 jam setelah pemberian antibiotik. Riwayat kontak yang dimaksud antara lain:
1. anggota keluarga serumah, yaitu orang yang tinggal serumah dengan kasus;
2. kontak yang berbagi tempat tidur, seperti asrama, pondok pesantren, rumah tahanan, dan lain-lain;
3. kontak di sekolah, seperti murid dan guru dalam satu ruang kelas dengan kasus atau tempat penitipan anak;
4. kontak dengan kasus melalui sekresi oral seperti ciuman, berbagi makanan dan minuman, resusitasi mulut ke mulut;
5. sumber daya manusia kesehatan yang tidak menggunakan alat pelindung diri sesuai standar saat merawat jalan napas atau terpapar sekresi pernapasan kasus, tindakan intubasi endotrakeal;
6. khusus bagi pelaku perjalanan, yaitu penumpang berada dalam satu alat angkut dalam perjalanan yang kontak langsung dengan posisi berdekatan (2 baris di kiri/kanan/depan atau belakang)
Hingga saat ini, bakteri Neisseria meningitidis hanya dapat menginfeksi manusia, tidak ada reservoir pada hewan.
Penyakit meningokokus terkadang sulit untuk didiagnosis karena tanda dan gejala yang ditimbulkan banyak memiliki kesamaan dengan gejala dari penyakit lain. Penegakkan diagnosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan kultur (spesimen: cairan serebrospinal/CSS dan darah) dan RT-PCR (spesimen: CSS, darah, dan serum)
Pengobatan penyakit meningokokus dapat berupa suportif dan antibiotik. Pengobatan antibiotik harus dimulai sesegera mungkin. Namun, perlu diperhatikan juga bahwa penyakit ini berpotensi fatal dan perlu dilihat sebagai keadaan darurat medis sehingga pasien harus dirujuk ke rumah sakit. Apabila penderita mengalami infeksi yang cukup serius, maka pasien dapat menerima pengobatan lain seperti dukungan pernapasan, obat untuk menangani tekanan darah rendah, hingga perawatan luka.
Penyakit meningokokus dapat menyebabkan wabah, kematian dalam waktu 24 jam, komplikasi serta gejala sisa jangka panjang (sequele). Satu dari lima orang yang selamat dari meningitis bakterial mungkin mengalami sequele. Gejala sisa ini dapat meliputi gangguan pendengaran, kejang, kelemahan anggota tubuh, gangguan penglihatan, bicara, bahasa, memori, dan komunikasi, serta jaringan parut dan amputasi anggota tubuh akibat nekrosis jaringan. Tingkat kematian penyakit meningokokus sejauh ini dilaporkan pada sekitar 5-10% tergantung pada gejala klinisnya.
Pencegahan utamanya dapat dilakukan dengan melakukan vaksinasi dan menghindari kontak dekat dengan seseorang yang terinfeksi. Selain itu juga dapat dilakukan dengan:
a. membersihkan tangan secara teratur dengan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir selama 40-60 detik atau menggunakan cairan antiseptik berbasis alkohol (hand sanitizer) minimal 20 – 30 detik;
b. menggunakan alat pelindung diri berupa masker di tempat umum sesuai dengan penilaian risiko individu;
c. etika batuk dan bersin;
d. mengkonsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang dan aman;
e. aktivitas fisik cukup;
f. pemeliharaan ventilasi
Vaksin penyakit meningokokus berlisensi telah tersedia lebih dari 50 tahun. Meskipun sudah terdapat perbaikan dalam cakupan galur dan ketersediaan vaksin, namun sampai saat ini tidak ada imunisasi universal untuk penyakit meningokokus. Imunisasi masih spesifik sesuai serogroup dengan memberikan berbagai tingkat perlindungan. Terdapat dua tipe vaksin yang tersedia saat ini, yaitu vaksin meningokokus polisakarida serta vaksin meningokokus konjugat.
Pemberian vaksin diberikan kepada kelompok yang berisiko tinggi, yaitu seseorang yang melakukan perjalanan atau tinggal ke negara/daerah wilayah endemis atau datang dari wilayah terjangkit, seperti wisatawan, tentara/pelajar, masyarakat yang melakukan perjalanan yang berisiko tinggi termasuk jamaah haji/umrah dan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan berangkat ke Arab Saudi.
Pemberian vaksin meningokokus diberikan minimal 10 (sepuluh) hari sebelum keberangkatan. Setiap orang yang telah diberikan vaksinasi diberikan sertifikat vaksinasi internasional atau International Certificate of Vaccination (ICV). Vaksinasi penyakit meningokokus dapat didapatkan di sentra vaksinasi internasional (B/BKK) atau faskes yang telah ditunjuk pemerintah.
Update 9 April 2026. FAQ ini akan diupdate sesuai dengan perkembangan situasi.
KEMENTERIAN
KESEHATAN RI
Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit
Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan
Tim Kerja
Penyakit Infeksi Emerging
Gedung Adhyatma
Lantai 6
Jl. H.R. Rasuna Said Blok X.5 Kav. 4-9, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12950
Berlangganan
Jangan Lewatkan Berita terbaru Media informasi penyakit infeksi emerging
Korespondensi :
[email protected]