Frequently Asked Questions (FAQ) Penyakit Virus Hanta

25 May 2026 | ADMIN INFEM
Apa itu penyakit virus hanta?

Penyakit zoonosis yang disebabkan oleh Orthohantavirus dalam kelompok famili Hantaviridae dan ordo Bunyavirales serta ditularkan dari reservoir (tikus dan celurut).

Apa yang akan terjadi apabila saya terinfeksi virus hanta?

Seseorang yang terinfeksi virus hanta dapat mengalami manifestasi klinis yang berbeda tergantung pada tipe virus yang menginfeksi. Penyakit virus hanta dapat menyebabkan 2 manifestasi klinis berupa:

  • Haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) menimbulkan demam berdarah dengan sindrom ginjal dan gejala demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise (lemas), dan ikterik/jaundice yang dapat bersamaan (ko-infeksi) dengan leptospirosis, dengue, tifoid, dan rickettsiosis. Umumnya disebabkan oleh strain Seoul (SEOV), Hantaan (HTNV), Puumala (PUUV), Dobrava-Belgrade (DOBV), dan Saarema (SAAV).
  • Hantavirus pulmonary syndrome (HPS) menimbulkan sindrom pernapasan berat dengan gejala gangguan pada paru-paru. Umumnya disebabkan oleh strain Andes (ANDV) dan Sin Nombre (SNV). Strain Andes diketahui dapat menyebabkan penularan antar manusia dalam jumlah terbatas pada kontak erat dan berkepanjangan.

Apakah penyakit Hantavirus merupakan penyakit baru?

Tidak, Hantavirus pertama kali diidentifikasi pada rodensia (Apodemus agrarius) di dekat sungai Hantan, Korea Selatan pada tahun 1978. Temuan ini kemungkinan berkaitan dengan lebih dari 3000 kasus demam berdarah di Korea yang terjadi pada pasukan PBB setelah perang Korea (1951-1953). Pada tahun 1981, genus Hantavirus yang termasuk virus yang menyebabkan haemorraghic fever with renal syndrome (HFRS) diperkenalkan dalam famili Bunyaviridae. Setelahnya pada tahun 1993, terdapat temuan wabah Hantavirus di wilayah barat daya Amerika Serikat yang menyebabkan gangguan serius pada saluran pernapasan sehingga memunculkan temuan kasus hantavirus pulmonary syndrome (HPS).

Bagaimana kondisi persebaran virus hanta di dunia?

Orthohantavirus yang menyebabkan penyakit pada manusia sudah tersebar di berbagai negara dengan strain virus yang beragam. Sebaran Orthohantavirus di dunia terbagi menjadi dua yakni Old World Hantavirus di Eropa dan Asia yang menyebabkan tipe HFRS dan New World Hantavirus di Amerika yang menyebabkan tipe HPS. Tipe HFRS disebabkan oleh strain Seoul (SEOV), Hantaan (HTNV), Puumala (PUUV), Dobrava-Belgrade (DOBV), dan Saarema (SAAV). Sedangkan Tipe HPS disebabkan oleh strain Sin Nombre (SNV) dan Andes (ANDV).

Bagaimana situasi Hantavirus di Indonesia?

Situasi persebaran Hantavirus di Indonesia, baik pada hewan ataupun manusia belum banyak diketahui, meskipun sudah ada laporan kasus. Beberapa penelitian atau publikasi menyatakan adanya infeksi Hantavirus dan virus Seoul pada manusia di Indonesia. Selain itu, keberadaan Hantavirus pada vektor (rodensia) melalui Hasil Riset Khusus Vektor dan Reservoir (Rikhus Vektora) yang dilakukan pada tahun 2015-2018 di 29 provinsi mengemukakan bahwa infeksi Hantavirus pada rodensia pembawa Hantavirus telah ditemukan di 29 provinsi tersebut dan tersebar pada berbagai tipe habitat seperti pemukiman, lahan pertanian, maupun hutan.

Bagaimana seseorang dapat tertular penyakit virus Hanta?

Penularan penyakit virus hanta ke manusia dapat terjadi baik melalui kontak dengan reservoir utama (tikus dan celurut) yang terinfeksi virus hanta melalui gigitan atau kontak dengan ekskresinya (saliva, urin, feses), serta dengan menghirup aerosol dari debu atau partikel halus yang mengandung virus hanta. Selain itu, penularan dapat terjadi ketika saliva, urin, feses atau material terkontaminasi langsung mengenai kulit yang luka atau membran mukosa pada mata, mulut, dan hidung.

Bagaimana cara mengetahui rodensia yang menjadi pembawa penyakit Hantavirus?

Tidak ada cara yang spesifik untuk mengetahui rodensia pembawa penyakit Hantavirus. Hal tersebut disebabkan karena rodensia pembawa Hantavirus bersifat asimptomatik atau tidak bergejala meskipun telah terinfeksi dan setiap tipe  Hantavirus memiliki spesies inang rodensia yang berbeda satu sama lain.

Siapakah yang berisiko terkena penyakit Hantavirus?

Setiap orang dari segala usia, ras, kelompok etnis, dan jenis kelamin berpotensi terpapar Hantavirus ketika memiliki potensi kontak dengan rodensia pembawa Hantavirus. Namun  terdapat beberapa kegiatan berisiko yang memungkinkan seseorang terinfeksi Hantavirus:

  • Kegiatan membuka dan membersihkan kabin, gudang, lumbung, dan garasi yang tidak terpakai dalam waktu yang lama
  • Kegiatan membersihkan rumah. Hal ini menjadi berisiko terutama ketika cuaca dingin (musim dingin atau musim hujan) karena umumnya rodensia akan bersarang atau masuk ke dalam rumah untuk mencari kehangatan.
  • Konstruksi dan pekerja pengendali hama dapat berpotensi terpapar ketika mereka bekerja di ruang merangkak (crawl spaces) atau gedung kosong yang dapat menjadi tempat rodensia bersarang.
  • Berkemah atau mendaki, umumnya seseorang yang berkemah atau mendaki dapat terpapar ketika menggunakan area perkemahan yang menjadi tempat rodensia bersarang.

Apa saja gejala penyakit Hantavirus?

Gejala yang dialami seseorang bergantung pada manifestasi klinis yang terjadi dengan rincian sebagai berikut:

  • Haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS)

Seseorang yang mengalami manifestasi klinis HFRS umumnya mengalami gejala awal seperti sakit kepala intens, nyeri pada punggung dan perut, demam, menggigil, mual, dan penglihatan kabur, serta terdapat kemungkinan timbul gejala lain seperti wajah kemerahan, peradangan, mata merah, atau ruam. Setelah mengalami gejala awal, seseorang dengan HFRS dapat mengalami gejala lanjutan seperti tekanan darah rendah, syok akut, pecah pembuluh darah, dan gangguan ginjal akut.

  • Hantavirus pulmonary syndrome (HPS)

Seseorang yang mengalami manifestasi klinis HPS umumnya memiliki gejala awal seperti kelelahan, demam, dan nyeri otot terutama di paha, panggul, punggung, dan bahu. Namun empat hingga sepuluh hari setelah gejala awal, umumnya seseorang dengan HPS mengalami batuk dan sesak napas karena paru-paru yang terisi cairan.  Kasus HPS umumnya mengakibatkan tidak berfungsinya otot jantung dan penurunan jumlah aliran darah (hyperperfusion) sehingga HPS sering disebut sebagai Hantavirus cardiopulmonary syndrome (HCPS).

Berapa lama waktu seseorang dapat timbul gejala setelah terpapar Hantavirus?

Waktu timbul gejala umumnya 1-8 minggu setelah terpapar Hantavirus. Akan tetapi, masa timbul gejala berbeda setiap orangnya bergantung pada jenis manifestasi klinis yang dialami. Seseorang yang mengalami manifestasi klinis HPS umumnya timbul gejala 1-8 minggu setelah terpapar Hantavirus. Sedangkan seseorang yang mengalami manifestasi klinis HFRS mengalami gejala umumnya 1-2 minggu setelah terpapar Hantavirus, namun dalam beberapa kasus dapat terjadi 8 minggu setelah terpapar.

Jika saya mengalami gejala berkaitan dengan penyakit Hantavirus, hal apa yang harus saya lakukan?

Apabila Anda mengalami gejala berkaitan dengan Hantavirus dan memiliki kemungkinan kontak dengan rodensia, Anda diharapkan pergi ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Dokter atau tenaga kesehatan akan melakukan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis.

 

Jika saya terdiagnosis mengalami penyakit Hantavirus, pengobatan apa yang harus saya lakukan?

Apabila Anda terdiagnosis penyakit Hantavirus, dokter atau tenaga kesehatan akan menentukan mekanisme pengobatan yang Anda perlukan. Sampai saat ini belum ada pengobatan spesifik untuk penyakit Hantavirus, pengobatan ditujukan sebagai terapi suportif untuk meredakan gejala yang dialami.

Apakah terdapat kemungkinan seseorang meninggal akibat penyakit Hantavirus?

Kematian akibat Hantavirus berbeda bergantung pada jenis manifestasi klinis yang dialami seseorang:

  • Hantavirus pulmonary syndrome (HPS)

Seseorang yang mengalami manifestasi klinis HPS memiliki kemungkinan kematian yang cukup tinggi, yakni sebesar 40-50%. 

  • Haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS)

Seseorang yang mengalami manifestasi klinis HFRS umumnya memiliki kemungkinan kematian yang lebih rendah dibandingkan HPS yakni pada rentang 5-15% tergantung jenis virus yang menginfeksi, yakni 5-15% pada seseorang yang terinfeksi tipe virus Hantaan dan di bawah 1% pada seseorang yang terinfeksi tipe virus Puumala.

Bagaimana cara mencegah terpapar Hantavirus?

Pencegahan terhadap Hantavirus dilakukan utamanya melalui pengendalian rodensia serta mencegah kontak dengan urin, tinja, air liur, dan tempat bersarang rodensia. Upaya mencegah kontak dengan urin, tinja, dan air liur rodensia dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Menutup lubang di dalam atau di luar rumah untuk mencegah masuknya rodensia ke dalam rumah atau tempat kerja
  • Menempatkan perangkap tikus di sekitar rumah atau tempat kerja untuk mengurangi populasi rodensia
  • Melindungi makanan atau minuman dari kemungkinan kontaminasi rodensia dengan cara ditutup menggunakan tudung saji atau disimpan pada wadah tertutup

Apakah sudah ada vaksin untuk mencegah terpapar Hantavirus?

Sampai saat ini belum tersedia vaksin untuk mencegah terpapar Hantavirus. Untuk mencegah terpapar Hantavirus, Anda dapat menerapkan upaya pengendalian rodensia dan pencegahan kontak dengan urin, tinja, dan air liur rodensia.

 

 

Selayang Pandang

Penyakit Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh Orthohantavirus serta ditularkan melalui reservoir (tikus dan celurut) melalui cairan tubuh (urin, feses, dan saliva) maupun debu terkontaminasi yang terhirup (inhalasi aerosol). Penyakit virus Hanta dapat menyebabkan dua manifestasi klinis berupa Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).

Hingga saat ini, Hantavirus sudah tersebar pada berbagai negara di dunia termasuk di Indonesia. Persebaran Hantavirus di Indonesia baik pada hewan ataupun manusia belum banyak diketahui meskipun sudah ada laporan kasus. 

Update: 25 Mei 2026. FAQ ini akan diupdate sesuai dengan perkembangan situasi dan dapat diunduh pada link berikut

Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Virus Hanta di Indonesia dapat diakses pada link berikut!